GM Primer BTM se-Jawa Tengah Perkuat Sinergi Likuiditas, Core System, dan Pembiayaan Konsorsium
16 September 2026
Pekalongan — Para General Manager (GM) Primer BTM se-Jawa Tengah bersama Pusat BTM Jawa Tengah menggelar rapat koordinasi dan pengembangan bersama pada Selasa, 15 September 2026. Kegiatan berlangsung di Meeting Room Kantor Pusat BTM Pekalongan, Jl. Pahlawan, Gejlig, Kajen, Pekalongan.
Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antar-BTM, membangun sistem keuangan yang lebih terintegrasi, sekaligus mendorong pemanfaatan dana secara lebih produktif bagi pengembangan ekonomi dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
Rapat dibuka tepat pukul 09.00 WIB oleh Ketua Pengurus Pusat BTM Jawa Tengah, Drs. H. Akhmad Sakhowi, ME. Selanjutnya, rapat dipimpin oleh GM Pusat BTM Jawa Tengah, Drs. H. Achmad Suud, M.Si.
Dalam pertemuan tersebut dibahas tiga agenda utama, yaitu sosialisasi sistem likuiditas terpadu, evaluasi dan pengembangan bersama sistem aplikasi core, serta pengembangan sistem pembiayaan konsorsium (sindikasi).
Membangun Sistem Likuiditas Terpadu
Salah satu pembahasan penting adalah pengembangan sistem likuiditas terpadu di lingkungan BTM Jawa Tengah. Sistem ini diarahkan untuk memperkuat hubungan antara Primer BTM dengan Pusat BTM Jawa Tengah dalam mengelola kelebihan maupun kebutuhan likuiditas.
Melalui sistem tersebut, dana yang tersedia pada satu BTM tidak berhenti sebagai dana menganggur, tetapi dapat dikelola dan disalurkan melalui Pusat BTM Jawa Tengah untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan produktif di jaringan BTM maupun Amal Usaha Muhammadiyah.
Dalam arahannya, Drs. H. Achmad Suud, M.Si. mengajak Primer BTM yang memiliki kelebihan likuiditas untuk menempatkan dananya di Pusat BTM Jawa Tengah. Dana tersebut selanjutnya dapat disalurkan ke berbagai proyek investasi dan pembiayaan dengan menggunakan akad Mudharabah Muqayyadah, sesuai dengan tujuan dan ketentuan yang disepakati.
Likuiditas Bersama untuk Mendukung Pengembangan AUM
Salah satu contoh konkret yang dibahas dalam pengembangan skema tersebut adalah rencana pemanfaatan likuiditas gabungan untuk mendukung pembiayaan pengadaan alat kesehatan (alkes) bagi RS PKU Muhammadiyah Sruweng, Kebumen.
Pembiayaan tersebut antara lain diarahkan untuk pengadaan CT Scan dan Bronkoskopi, dua fasilitas medis yang diharapkan dapat memperkuat kemampuan pelayanan kesehatan RS PKU Muhammadiyah Sruweng kepada masyarakat.
Selain itu, likuiditas bersama juga diarahkan untuk mendukung pengembangan fasilitas kesehatan rumah sakit di Magelang.
Total kebutuhan pembiayaan untuk berbagai pengembangan tersebut mencapai sekitar Rp20 miliar.
Rencana ini menggambarkan bagaimana jaringan BTM dapat membangun kekuatan pembiayaan melalui konsolidasi likuiditas. Dana yang dihimpun dari beberapa Primer BTM kemudian dapat dikumpulkan melalui Pusat BTM Jawa Tengah dan disalurkan kepada proyek yang membutuhkan pembiayaan dalam jumlah lebih besar.
Dengan model tersebut, kapasitas pembiayaan tidak lagi hanya bergantung pada kemampuan masing-masing BTM secara individual. Sebaliknya, kekuatan jaringan BTM dapat dihimpun menjadi satu kekuatan pembiayaan bersama.
Pengembangan Core System dan Pembiayaan Sindikasi
Selain likuiditas, pertemuan juga membahas evaluasi dan pengembangan bersama sistem aplikasi core. Penguatan core system menjadi bagian penting dalam membangun integrasi operasional BTM, meningkatkan efisiensi, serta mendukung pengelolaan data dan layanan secara lebih modern.
Agenda berikutnya adalah pengembangan sistem pembiayaan konsorsium atau sindikasi. Skema ini memungkinkan beberapa BTM untuk berkolaborasi dalam pembiayaan suatu proyek dengan skala yang lebih besar.
Pengembangan pembiayaan sindikasi menjadi semakin relevan ketika terdapat kebutuhan pembiayaan AUM atau proyek produktif yang nilainya berada di atas kapasitas pembiayaan satu BTM. Melalui kolaborasi, risiko dan sumber daya pembiayaan dapat dikelola secara bersama dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian, tata kelola, dan ketentuan syariah.
Dari Likuiditas Menjadi Kekuatan Ekonomi Umat
Pertemuan GM Primer BTM se-Jawa Tengah tersebut menunjukkan bahwa jaringan BTM memiliki potensi besar untuk membangun ekosistem keuangan Muhammadiyah yang saling terhubung.
Kelebihan likuiditas dari satu BTM dapat menjadi sumber pembiayaan bagi kebutuhan BTM atau AUM lainnya. Selanjutnya, pembiayaan tersebut dapat digunakan untuk membangun fasilitas kesehatan, mengembangkan pendidikan, memperkuat usaha produktif, maupun berbagai kegiatan ekonomi lainnya.
Dalam perspektif yang lebih luas, mekanisme ini merupakan upaya membangun sirkulasi dana di dalam ekosistem Muhammadiyah, sehingga dana yang berasal dari warga dan lembaga Muhammadiyah dapat kembali dimanfaatkan untuk memperkuat berbagai sektor yang berada dalam lingkungan persyarikatan.
Penguatan sinergi tersebut diharapkan tidak berhenti pada aspek keuangan, tetapi berkembang menjadi kolaborasi yang lebih luas dalam teknologi, pembiayaan, investasi, dan pengembangan Amal Usaha Muhammadiyah.
Rapat di Pekalongan ini menjadi salah satu langkah untuk mewujudkan jaringan BTM yang semakin terintegrasi, kolaboratif, dan mampu mengoptimalkan potensi dana secara bersama.
Pada akhirnya, kekuatan BTM bukan hanya terletak pada besarnya aset masing-masing lembaga, tetapi juga pada seberapa kuat seluruh jaringan mampu menghubungkan kelebihan dana dengan kebutuhan pembiayaan di dalam ekosistem Muhammadiyah.
Dari BTM untuk menggerakkan ekonomi dan kebermanfaatan bagi umat.